14 Feb 2023

 

Modul 3.1.a.9 Koneksi Antar Materi: Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

Oleh : Dwi Fitri Paramita, S.Pd., M.Pd.
Guru SMP Negeri 3 Rembang
CGP Angkatan 6 Kabupaten Rembang




Dalam tulisan ini saya akan membahas tentang Koneksi Antar Materi Modul 3.1.a.9 terkait Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran. Berikut, saya akan menjawab 10 pertanyaan yang tertuang dalam LMS yang berakaitan dengan materi yang sudah dipelajari melalu program Calon Guru Penggerak.

Akan tetapi, sebelum menguraikan jawaban, marilah kita sejenak renungkan makna dalam dari quotes berikut :



 "Pendidikan adalah senjata paling mematikan di dunia, karena dengan pendidikan

kamu dapat mengubah dunia"

- Nelson Mandela -


Pendidikan adalah tempat untuk membentuk citra baik dalam diri manusia agar berkembang seluruh potensi dirinya. Pendidikan adalah sesuatu yang tidak terbatas. Pada dasarnya, pendidikan sangatlah dibutuhkan bagi segenap manusia. Tanpa pendidikan, dampak buruk pada manusia itu akan terjadi. Pendidikan akan menciptakan manusia yang lebih baik dari masa ke masa, dengan kemampuan mereka masing-masing yang turut berkembang selama mereka belajar akan suatu hal tertentu.

Berangkat dari uraian di atas, seorang pendidik harus mampu menjadi teladan utama bagi murid-muridnya, dengan keteladanan  perkataan maupun tindakan semua tercermin dalam kesehariannya. Menjadi pendidik berarti kita siap menjadi role model semua nilai kebajikan bagi peserta didik dan seluruh warga sekolah bahkan di lingkungan kita tinggal.

Kita sebagai pendidik harus mampu berkontribusi bagi peserta didik, setiap keputusan yang kita ambil harus berpihak kepada murid dengan dilandasi nilai-nilai kebajikan. Pendidik berkewajiban untuk menyampaikan kebenaran dan keteladanan.

 

Menilik quote di atas, maka saya kemudian menjawab pertanyaan modul 3.1 koneksi antar materi Pendidikan guru penggerak Pengambilan keputusan sebagai berikut :

 

1.      Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?

Filosofi triloka memiliki pengaruh bagaimana seorang guru memngambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Triloka dicetuskan oleh Ki Hadjar Dewantara, sampai saat ini masih menjadi landasan berpijak pendidik di antaranya Ing Ngarsa Sung Tuladha artinya seorang pemimpin harus mampu memberi tauladan, Ing Madya Mangunkarsa artinya seorang pemimpin juga harus mampu memberikan dorongan, semangat dan motivasi dari tengah, dan  Tut Wuri Handayani artinya seorang pemimpin harus mampu memberi dorongan dari belakang. Filosofi Pratap Triloka khususnya ing Ngarsa Sung Tuladha memberikan pengaruh yang besar dalam mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. KHD berpandangan bahwa sebagai seorang guru, itu harus memberikan tauladan atau contoh praktik baik kepada murid.

Seorang pemimpin (Guru) harus mampu memberikan teladan dan memberikan semangat dan motivasi dari tengah. Dalam setiap pengambilan keputusan, seorang guru harus memberikan karsa atau usaha keras sebagai wujud filosofi Pratap Triloka ing madyo mangun karsa dan pada akhirnya guru membantu murid untuk dapat menyelesaikan atau mengambil keputusan terhadap permasalahannya secara mandiri.

Semboyan ketiga Tut Wuri Handayani, guru sebagai pamong yang mengarahkan murid menuju kebahagiaan. Hal ini sesuai dengan filosofi Pratap Triloka Tut Wuri Handayani yaitu mampu memberikan dorongan dari belakang untuk kemajuan seorang muridnya. 

Dalam setiap pengambilan keputusan guru diharapkan selalu berpihak kepada murid untuk menjadikan generasi cerdas dan berkarakter profil pelajar Pancasila. Hal ini dapat kita lakukan selama proses pembelajaran di sekolah. Tidak hanya pemenuhan target kurikulum namun transfer nilai – nilai kebajikan dapat kita sampaikan secara terus menerus dengan eksplisit pada pembelajaran dan keteladanan disetiap pengambilan keputusan. Proses pengambilan keputusan yang bertanggungjawab dan mempertimbangkan sisi – sisi kemanusiaan.

 

 

  1. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

 



 

Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, dan kompetensi  kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness) dan keterampilan berhubungan sosial  (relationship skills) akan mewujudkan Tut wuri handayani dengan memberikan dorongan secara moril maupun materil bagi semua warga sekolah tak terkecuali murid-murid kita. Nilai-nilai kebajikan yang tertanam dalam diri pendidik akan mewarnai setiap pengambilan keputusaan. Sebagai manusia yang beragama,  kita yakin apapun yang kita lakukan, kelak akan dimintai pertanggungjawaban, begitu pula dengan pengambilan keputusan. Nilai kejujuran, integritas sebagi pendidik akan tergambar dalam keteladanan dan kebijakan – kebijakan yang diambil dalam setiap keputusan

Nilai-nilai positif yang mampu mempengaruhi diri guru untuk menciptakan pembelajaran yang berpihak pada murid. Nilai-nilai yang akan membimbing dan mendorong pendidik untuk mengambil keputusan yang tepat dan benar. Nilai-nilai positif tersebut seperti mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, serta berpihak pada murid. Nilai-nilai tersebut merupakan prinsip yang dipegang teguh ketika kita berada dalam posisi yang menuntut kita untuk mengambil keputusan dari dua pilihan yang secara logika dan rasa keduanya benar, berada situasi dilema etika (benar vs benar) atau berada dalam dua pilihan antara benar melawan salah (bujukan moral) yang menuntut kita berpikir secara seksama untuk mengambil keputusan yang benar.

Bua nilai-nilai positif yang dipegang teguh dan dijalankan oleh guru adalah keputusan yang tepat. Nilai-nilai positif akan mengarahkan kita mengambil keputusan dengan resiko yang sekecil-kecilnya. Keputusan yang mampu memunculkan kepentingan dan keberpihakan pada peserta didik. Nilai-nilai positif mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif serta berpihak pada murid merupakan wujud nyata dari kompetensi sosial emosional kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran social dan keterampilan berinteraksi social dalam mengambil keputusan.

 

  1. Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? 

Coaching adalah ketrampilan yang sangat penting dalam menggali suatu masalah yang sebenarnya terjadi baik masalah dalam diri kita maupun masalah yang dimiliki orang lain. Coaching dilaksanakan dengan langkah TIRTA yang dijalankan dengan sistematis dan terarah. Konsep coaching TIRTA sangat ideal apaila dikombinasikan dengan sembilan langkah konsep pengambilan dan pengujian keputusan sebagai evaluasi terhadap keputusan yang kita ambil.

Pendampingan oleh Pengajar Praktik dan fasilitator telah membantu saya berlatih mengevaluasi keputusan yang telah saya ambil. Keputusan yang diambil dipastikan berpihak kepada murid, dan sejalan dengan nilai-nilai kebajikan universal dan dapat dipertanggungjawabkan baik pada masyarakat maupun pada diri sundiri. TIRTA merupakan model coaching yang dikembangkan Program Pendidikan Guru Penggerak dengan langkah  : Tujuan, : Identifikasi, : Rencana aksi, dan TA: Tanggung jawab. Dengan menjalankan TIRTA secara terarah dan sistematis diharapkan guru sebagai pemimpin pembelajaran dapat mengambil keputusan terhadap masalah yang sedang dialami oleh anak.

 

4.      Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?

Kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari sosial emosional sangat mempengaruhi pengambilan keputusan. Subyektifitas dan suasana hati dapat mewarnai setiap keputusan yang diambil, namun pendidik menyadari setiap keputusan wajib berlandaskan pada nilai-nilai kebajikan  serta regulasi yang ada dan melakukan 9 langkah pengambilan keputusan. Sehingga dengan kedua dasar tersebut kita dapat membedakan dilema etika atau bujukan moral. Sosial emosional akan menumbuhkan empati dan simpati bagi kita sebagai pendidik. Dengan simpati dan empati kita dapat merasakan apa yang peserta didik alami, dan kita dapat mengidentifikasi permasalahan dengan bijaksana, sehingga dalam pengambilan keputusan kita dapat menggiring murid menciptakan terobosan yang inifatif dan kreatif sebagai alternatif solusi dalam setiap pengambilan keputusan. Sebagai pemimpin pembelajaran setiap keputusan harus berpihak pada murid, berbasis etika dan nilai kebajikan dengan memetakan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengambilan keputusan.

·      4 (empat) Paradigma pengambilan keputusan yaitu :

a.       individu lawan masyarakat

b.      rasa keadilan lawan rasa kasihan

c.       kebenaran lawan kesetiaan

d.      jangka pendek vs jangka panjang.

·      3 (tiga ) prinsip pengambilan keputusan yaitu :

a.       Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)

b.      Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)\

c.       Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking).

·      9 (sembilan) langkah pengambilan keputusan

a.    Mengenali nilai- nilai yang saling bertentangan

b.    Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi tersebut

c.     Mengumpulkan fakta

d.    Ppengujian benar atau salah

e.    Ppengujian benar- benar

f.      Mmelakukan prinsip resolusi

g.    Investigasi opsi trilema

h.    Buat keputusan

i.      Lihat lagi keputusan dan refleksikan

 

5.      Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

Guru yang mampu melihat permasalahan dari berbagai kaca mata dan guru yang dengan tepat mampu membedakan apakah permasalahan yang dihadapi termasuk dilema etika ataukah bujukan moral. Seorang guru ketika dihadapkan dengan kasus-kasus yang fokus terhadap masalah moral dan etika, baik secara sadar atau pun tidak akan terpengaruh oleh nilai-nilai yang dipegang olehnya. Nilai-nilai yang dipegang olehnya akan mempengaruhi dirinya dalam mengambil sebuah keputusan. Jika nilai-nilai yang dipegang tersebut adalah nilai-nilai kebajikan maka keputusan yang diambil akan tepat, benar dan dapat dipertanggung jawabkan. Hal sebaliknya terjadi jika nilai-nilai yang dianutnya tidak sesuai dengan kaidah moral, agama dan norma, maka keputusan yang diambilnya benar secara pribadi dan tidak sesuai harapan kebanyakan pihak. Kita tahu bahwa nilai-nilai yang dipegang oleh Guru Penggerak adalah reflektif, mandiri, inovatif, kolaboratif dan berpihak pada anak didik. Nilai-nilai tersebut akan mendorong guru untuk menentukan keputusan masalah moral atau etika yang tepat sasaran, benar dan meminimalisir kemungkinan kesalahan pengambilan keputusan yang dapat merugikan semua pihak khususnya siswa.

 

  1. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman?

Pengambilan keputusan yang tepat akan menciptakan lingkungan yang kondusif, positif, aman, dan nyaman. Untuk mencapai semua itu diperlukan perubahan yang mendasar dan upaya yang konsisten. Dengan demikian pengambilan keputusan yang tepat yaitu dengan membuat visi yang berdampak pada perkembangan muriddan menjadi inisiator dalam mewujudkan budaya positif di sekolah yang berpihak pada murid. Dalam mewujudkan budaya positif ini guru memegang peranan sentral. Guru perlu mengambil keputusan yang tepat untuk mewujudkan budaya positif baik di lingkungan kelas maupu disekolah. Keputusan yang diambil untuk membangun budaya positif di sekolah dengan menyusun kesepakatan kelas. Kesepakatan kelas yang efektif dapat membantu pembentukan budaya positif kelas. Hal ini dapat membantu proses pembelajaran lebih mudah dan tidak menekanyang pada akhirnya menciptakan lingkungan belajar yang positif, kondusif, aman, nyaman dan menyenangkan.

 

 

  1. Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Tantangan yang ada di lingkungan saya dalam pengambilan keputusan kasus dilema etika diantaranya :

§  Tidak semua warga sekolah berkomitmen tinggi untuk menjalankan keputusan bersama

§  Keputusan kadang kala tanpa sepenuhnya melibatkan guru sehingga muncul banyak kendala-kendala dalam proses pelaksanaan pengambilan keputusan.

§  Pengambilan keputusan ketika suara minoritas berseberangan dengan suara mayoritas. Misalnya ketika rapat kenaikan kelas, tidak semua guru sepakat untuk memberikan nilai apa adanya dengan alasan jika hal tersebut dilakukan banyak yang tidak naik kelas dan menurunkan citra sekolah

§  Terlalu khawatir dengan keputusan yang akan diambil berdampak pada menurunnya animo masyarakat untuk menyekolahkan anaknya.

Hal ini berkaitan dengan paradigma yang ada di lingkungan sekolah. Persaingan ketat dalam Penerimaan Peserta Didik Baru menjadikan sekolah memiliki pandangan bahwa keputusan dan kebijakan yang diambil harus yang sesuai dengan selera masyarakat.

 

  1. Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?

"Pendidikan itu harus memerdekakan"

Pengambilan keputusan yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran di kelas yang berpihak dan memerdekakan murid akan menjadi contoh dan tauladan bagi murid-murid untuk mulai berani mengambil keputusan-keputusan yang sesuai dengan pilihannya sendiri tanpa paksaan dan campur tangan orang lain. Diharapkan bahwa murid akan lebih nyaman untuk berkomunikasi dan menentukan pilihan keputusan bersama dengan guru , dan para guru akan lebih memperhatikan kepentingan muridnya.

Memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid yang berbeda – beda dilakukan dengan tahapan pembelajaran berdiferensiasi yaitu :

a.         Melakukan pemetaan kebutuhan belajar berdasarkan tiga aspek, yaitu: kesiapan belajar, minat belajar, dan profil belajar murid (bisa dilakukan melalui wawancara, observasi, atau survey menggunakan angket, dll)

b.         Merencanakan pembelajaran berdiferensiasi berdasarkan hasil pemetaan (memberikan berbagai pilihan baik dari strategi, materi, maupun cara belajar)

c.         Mengevaluasi dan erefleksi pembelajaran yang sudah berlangsung.

Dan guru juga menerapkan 3 strategi pembelajaran berdiferensiasi yaitu :

a.       Diferensial konten

b.      Diferensial proses, dam

c.       Diferensial produk

Guru yang mengajar menggunakan filosofi berfokus pada murid, segala keputusan yang diambil  baik metode, media dan sistem penilaian yang dilakukan yang sudah sesuai dengan kebutuhan murid, maka hal ini akan dapat memerdekakan murid dalam belajar dan pada akhirnya murid dapat berkembang sesuai dengan potensi dan kodratnya. Namun sebaliknya apabila keputusan tersebut tidak berpihak kepada murid, dalam hal metode, media, penilaian dan lain sebagainya maka kemerdekaan belajar murid tidak akan dapat berkembang sesuai potensi dan kodratnya.

 

9. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Guru yang didalam dirinya memiliki nilai kebajikan akan menjunjung tinggi dan menghargai prinsip-prinsip etika yang pasti.  Prinsip-prinsip etika sendiri berdasarkan pada nilai-nilai kebajikan universal yang disepakati dan disetujui bersama, lepas dari latar belakang sosial, bahasa, suku bangsa, maupun agama seseorang. Nilai-nilai kebajikan universal meliputi hal-hal seperti Keadilan, Tanggung Jawab, Kejujuran, Bersyukur, Lurus Hati, Berprinsip, Integritas, Kasih Sayang, Rajin, Komitmen, Percaya Diri, Kesabaran, dan masih banyak lagi.

Keputusan-keputusan yang diambil oleh guru sebagai pemimpin pembelajaran akan merefleksikan nilai-nilai yang dijunjung tinggi, dan akan menjadi rujukan atau teladan bagi seluruh warga sekolah, terutama bagi murid. Pendidik adalah teladan bagi murid untuk mewujudkan profil pelajar Pancasila.

Ketika guru sebagai pemimpin pembelajaran melakukan pengambilan keputusan yang memerdekakan dan berpihak pada murid, maka dapat dipastikan murid-muridnya akan belajar menjadi oang-orang yang merdeka, kreatif , inovatif dalam mengambil keputusan yang menentukan bagi masa depan mereka sendiri. Di masa depan mereka akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang matang, penuh pertimbangan dan cermat dalam mengambil keputusan-keputusan penting bagi kehidupan dan pekerjaannya.

 

10.  Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?\

Kesimplan yang didapat dari pembelajaran modul ini yang dikaitkan dengan modul-modul sebelumnya adalah :

a.       Pengambilan keputusan adalah keterampilan yang harus dimiiki oleh guru dan harus berlandaskan kepada filosofi Ki Hajar Dewantara yang dikaitkan sebagai pemimpin pembelajaran yang harus perpusat pada anak dan tidak membawa kepentingan pribadi guru

b.      Guru sebagai pendidik yang peran utamanya adalah menuntun segala kodrat yang dimiliki oleh anak, baik kodrat alam maupun kodrat zamannya, agar anak meraih kemerdekaannya dalam belajar. Dalam proses menuntun, guru berperan sebagai pamong, yang mengedepankan azaz pratap trikolaka Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa dan Tut Wuri Handayani. Dalam kepemimpinannya di pembelajaran. Pratap Triloka KHD yang dikedepankan oleh guru dalam pengambilan keputusan di kelas akan membawa kepada perubahan positif pada anak.

c.       Setiap keputusan diambil guru ada konsekuensi yang mengikutinya, dan oleh sebab itu setiap keputusan perlu berdasarkan pada rasa tanggung jawab, nilai-nilai kebajikan universal dan berpihak pada murid. 

d.      Sebagai upaya pengambilan keputusan yang tepat, yang berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman dapat dilakukan dengan bebrapa tahap berikut, yaitu (1) mengidentifikasi jenis-jenis paradigma dilema etika yang sesui dari suatu kasus, (2) memilih dan memahami 3 (tiga) prinsip yang dapat dilakukan untuk membuat keputusan dalam dilema pengambilan keputusan, (3) menerapkan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan yang diambil dalam dilema etika, dan (4) bersikap reflektif, kritis, dan kreatif dalam proses tersebut

 

  1. Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

Berdasarkan apa yang sudah saya pelajari di modul 3.1 saya mampu membedakan antara dilema etika dan bujukan moral. Dimana dilema etika merupakan situasi dimana terjadi pertentangan dua kebenaran  atau  benar lawan benar, sementara bujukan moral adalah situasi dimana terjadi sebuah pertentangan benar lawan salah.

Hal yang tidak terduga adalah pada saat awal saya mempelajari dilema etika, saya merasa terjebak dalam menentukan sebuah kasus  antara bujukan moral dan dilema etika, ada kasus dilema etika yang saya kategorikan bujukan moral, sehingga saya merasa keputusan saya selama ini yang buat sebelum mempelajari modul ini cenderung kaku atau hanya berbasis peraturan sehingga saya merasa untuk melenceng dari aturan itu sulit. Keetika mempelajari dilema etika saya merasa, ada kalanya kita perlu melenceng dari aturan untuk kemaslahatan yang lebih besar, sehingga paradigma pengambilan keputusan dalam mengambil keputusan yang berhubungan dengan diema etika sangatlah penting dilakukan. Begitu pula 9 langkah pengambilan dna pengujian keputusan adalah langkah yang sangat runut dan terarah yang sangat berguna dalam mengambil keputusan dan menguji keputusan yang saya ambil.

Empat paradigma pengambilan keputusan  yaitu

·         Individu lawan masyarakat (individual vs community)

·         Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

·         Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

·         Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Pentingnya mengidentifikasi paradigma ini, bukan hanya mengelompokkan permasalahan, namun membawa penajaman bahwa situasi yang saya hadapi betul- betul mempertentangkan antara dua nilai-nilai inti kebajikan yang sama-sama penting.

          Saya juga sudah memahami tentang tiga prinsip pengambilan keputusan yang terdiri atas 3 prinsip yaitu

1.      Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)

2.      Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)

3.      Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

Konsep lain yang sangat penting adalah 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Saya merasa langkah ini sangat penting untuk memantapkan keputusan yang saya ambil, jika saya sudah melakukan 9 uji ini maka saya bisa memastikan keputusan saya efektif. Menurut saya, 9 langkah ini sangat detail dan terstruktur dan juga memudahkan dalam mengambil keputusan karena runut dan terpola dengan baik

9        langkah tersebut adalah

§  Langkah 1: Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini.

§  Langkah 2: Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini 

§  Langkah 3: Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini

§  Langkah 4: Pengujian benar atau salah, yang terdiri atas:

1.    Uji Legal
Menyangkut aspek pelanggaran hukum. Bila jawabannya adalah iya, maka pilihan yang ada bukanlah antara benar lawan benar, namun antara benar lawan salah. Pilihannya menjadi membuat keputusan yang mematuhi hukum atau tidak, bukannya keputusan yang berhubungan dengan moral.

2.    Uji Regulasi/Standar Profesional
Berhubungan dengan pelanggaran peraturan atau kode etik.

3.    Uji Intuisi
Langkah ini mengandalkan tingkatan perasaan dan intuisi dalam merasakan apakah ada yang salah dengan situasi ini. Uji intuisi ini akan mempertanyakan apakah tindakan ini sejalan atau berlawanan dengan nilai-nilai yang Anda yakini. 

4.    Uji Halaman  Depan Koran
Apa yang dirasakan bila keputusan ini dipublikasikan pada halaman depan dari koran dan sesuatu yang dianggap merupakan ranah pribadi, dan tiba-tiba menjadi konsumsi masyarakat? Bila merasa tidak nyaman membayangkan hal itu akan terjadi, kemungkinan besar sedang menghadapi bujukan moral atau benar lawan salah. 

5.    Uji Panutan/Idola 
Dalam langkah ini, membayangkan apa yang akan dilakukan oleh seseorang yang merupakan panutan Anda, misalnya ibu Anda. Tentunya di sini fokusnya bukanlah pada ibu Anda, namun keputusan apa yang kira-kira akan beliau ambil, karena beliau adalah orang yang menyayangi Anda dan orang yang sangat berarti bagi Anda. 

§  Langkah 5: Pengujian Paradigma Benar lawan Benar 

Mengidentifikasi paradigm sanagt penting karena, ini bukan hanya permasalahan namun membawa penajaman pada fokus kenyataan bahwa situasi ini betul-betul mempertentangkan antara dua nilai-nilai inti kebajikan yang sama-sama penting.

§  Langkah 6: Melakukan Prinsip Resolusi , yang terdiri dari 3 prinsip berpikir yaitu:

a.     Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)

b.     Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)

c.     Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

§  Langkah 7: Investigasi Opsi Trilema 

Mencari opsi yang ada di antara 2 opsi. Apakah ada cara untuk berkompromi dalam situasi ini. Terkadang akan muncul sebuah penyelesaian yang kreatif dan  tidak terpikir sebelumnya yang bisa saja muncul di tengah-tengah kebingungan menyelesaikan masalah.

§  Langkah 8: Buat Keputusan

§  Langkah 9, Tinjau lagi keputusan dan refleksikan


12.  Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

Saya pernah menerapkan pengambila keputusan dalam situasi moral etika. Ketika menghadapi permasalahan tersebut saya berpegang pada aturan atau regulasi yang berlaku dan juga menjalankan langkah – langkah pengambilan keputusan, meskipun langkah yang dilalui tidak sistematis atau urut di 9 langkah tersebut. Yang sama sekali belum pernah saya lakukan adalah uji panutan, Karena belum pernah terpikir apa yang panutan saya lakukan ketika mengambil keputusan tersebut.

Dalam mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, saya tidak jarang juga melibatkan rekan sejawat untik memberikan pertimbangan untuk pengambilan keputusan. Sama halnya ketika saya ada di posisi sebagai tim pengembang sekolah, saya juga selalu melibatkan tim untuk mengambil keputusan.'


13.  Bagaimana dampak mempelajari konsep  ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Sebelum, mempelajari konsep pengambilan keputusan dari program Calon Guru Penggerak ini, saya mengambil keputusan dengan berdasar regulasi dan dikolaborasikan dengan nilai kebajikan yang ada dalam diri saya. Akan tetapi setelah belajar modul ini, saya lebih paham bagaimana nilai kebajikan dikolaborasikan dengan paradigm, prinsip dan langkah pengambilan keputusan, dan keputusan yang diambil tersebut bertujuan untuk memerdekakan anak sesuai kodrat jaman dan kodral alamnya. Dalam kata lain, pengambilan keputusan dilakukan dengan bijak dengan bertumpu pada 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah bertujuan mendapat keputusan yang berpihak pada murid dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.


14.  Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?

 

Beban dan amanah kepemimpinan adalah mengimbangi semua prioritas yang terpenting. Tugas saya dalam pendidikan adalah melakukan yang terbaik.  Apa yang diinginkan kadang-kadang belum tentu  itu yang terbaik. Dan untuk membuat perubahan, apalagi perubahan yang transformational, pasti ada kritik.  Sebelum mengambil keputusan, tanyakan, apakah yang kita lakukan berdampak pada peningkatan pembelajaran murid? (Nadiem Makarim, 2020)


Bagi saya mempelajari modul ini sangat penting, sebab cara pengambilan keputusan dapat dijadikan panutan dan contoh praktik baik sebagai wujud menggerakkan pendidikan kearah yang lebih baik. Hasil atau keputusan yang diambil sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan pendidikan di kemudian hari, berpengaruh pada murid. Pengambilan keputusan guru menentukan nasib bangsa di masa depan.



__***__





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  Modul 3.1.a.9 Koneksi Antar Materi: Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran Oleh : Dwi Fitri Paramita, S.Pd., M.Pd. Guru SMP N...