Modul 3.1.a.9 Koneksi Antar Materi: Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran
Dalam tulisan ini saya akan membahas tentang
Koneksi Antar Materi Modul 3.1.a.9 terkait Pengambilan Keputusan Sebagai
Pemimpin Pembelajaran. Berikut, saya akan menjawab 10 pertanyaan yang tertuang dalam LMS yang berakaitan dengan materi
yang sudah dipelajari melalu program Calon Guru Penggerak.
Akan
tetapi, sebelum menguraikan jawaban, marilah kita sejenak renungkan makna dalam
dari quotes berikut :
"Pendidikan adalah senjata paling mematikan di dunia, karena dengan pendidikan
kamu dapat mengubah dunia"
- Nelson Mandela -
Pendidikan adalah tempat untuk membentuk citra baik dalam diri
manusia agar berkembang seluruh potensi dirinya. Pendidikan adalah
sesuatu yang tidak terbatas. Pada dasarnya, pendidikan sangatlah dibutuhkan
bagi segenap manusia. Tanpa pendidikan, dampak buruk pada manusia itu akan
terjadi. Pendidikan akan menciptakan manusia yang lebih baik dari masa ke masa,
dengan kemampuan mereka masing-masing yang turut berkembang selama mereka
belajar akan suatu hal tertentu.
Berangkat dari uraian di atas, seorang pendidik harus mampu menjadi teladan utama
bagi murid-muridnya, dengan keteladanan perkataan maupun tindakan semua
tercermin dalam kesehariannya. Menjadi pendidik berarti kita siap menjadi role
model semua nilai kebajikan bagi peserta didik dan seluruh warga sekolah bahkan
di lingkungan kita tinggal.
Kita sebagai
pendidik harus mampu berkontribusi bagi peserta didik, setiap keputusan yang
kita ambil harus berpihak kepada murid dengan dilandasi nilai-nilai kebajikan.
Pendidik berkewajiban untuk menyampaikan kebenaran dan keteladanan.
Menilik quote di atas, maka saya kemudian
menjawab pertanyaan modul 3.1 koneksi antar
materi Pendidikan guru penggerak Pengambilan keputusan sebagai berikut :
1. Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan
Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan
sebagai seorang pemimpin?
Filosofi triloka memiliki
pengaruh bagaimana seorang guru memngambil keputusan sebagai pemimpin
pembelajaran. Triloka dicetuskan oleh Ki Hadjar Dewantara, sampai saat ini masih menjadi
landasan berpijak pendidik di antaranya Ing Ngarsa Sung Tuladha artinya seorang pemimpin harus mampu
memberi tauladan, Ing Madya Mangunkarsa artinya seorang pemimpin juga harus
mampu memberikan dorongan, semangat dan motivasi dari tengah, dan Tut Wuri Handayani artinya seorang
pemimpin harus mampu memberi dorongan dari belakang. Filosofi Pratap Triloka khususnya ing Ngarsa
Sung Tuladha memberikan
pengaruh yang besar dalam mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.
KHD berpandangan bahwa sebagai seorang guru, itu harus memberikan tauladan atau
contoh praktik baik kepada murid.
Seorang pemimpin (Guru) harus mampu memberikan teladan
dan memberikan semangat dan motivasi dari tengah. Dalam setiap pengambilan keputusan, seorang guru
harus memberikan karsa atau usaha keras sebagai wujud filosofi Pratap Triloka
ing madyo mangun karsa dan pada akhirnya guru membantu murid untuk dapat
menyelesaikan atau mengambil keputusan terhadap permasalahannya secara mandiri.
Semboyan ketiga Tut Wuri Handayani, guru sebagai pamong yang mengarahkan murid
menuju kebahagiaan. Hal ini sesuai dengan filosofi Pratap Triloka Tut Wuri
Handayani yaitu mampu memberikan dorongan dari
belakang untuk kemajuan seorang muridnya.
Dalam setiap pengambilan
keputusan guru diharapkan selalu berpihak kepada murid
untuk menjadikan generasi cerdas dan berkarakter profil pelajar Pancasila. Hal
ini dapat kita lakukan selama proses pembelajaran di sekolah. Tidak hanya pemenuhan target kurikulum namun transfer nilai – nilai
kebajikan dapat kita sampaikan secara terus menerus dengan eksplisit pada
pembelajaran dan keteladanan disetiap pengambilan keputusan. Proses pengambilan
keputusan yang bertanggungjawab dan mempertimbangkan sisi – sisi kemanusiaan.
- Bagaimana nilai-nilai yang
tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita
ambil dalam pengambilan suatu keputusan?
Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, dan
kompetensi kesadaran diri (self awareness), pengelolaan
diri (self management), kesadaran sosial (social
awareness) dan keterampilan berhubungan sosial (relationship
skills) akan mewujudkan Tut wuri handayani dengan
memberikan dorongan secara moril maupun materil bagi semua warga sekolah tak
terkecuali murid-murid kita. Nilai-nilai kebajikan yang tertanam dalam diri
pendidik akan mewarnai setiap pengambilan keputusaan. Sebagai manusia yang
beragama, kita yakin apapun yang kita lakukan, kelak akan dimintai
pertanggungjawaban, begitu pula dengan pengambilan keputusan. Nilai kejujuran,
integritas sebagi pendidik akan tergambar dalam keteladanan dan kebijakan –
kebijakan yang diambil dalam setiap keputusan
Nilai-nilai
positif yang mampu mempengaruhi diri guru untuk menciptakan pembelajaran yang berpihak pada murid. Nilai-nilai yang
akan membimbing dan mendorong pendidik untuk mengambil keputusan yang tepat dan
benar. Nilai-nilai positif tersebut seperti mandiri, reflektif, kolaboratif,
inovatif, serta berpihak pada murid. Nilai-nilai tersebut merupakan prinsip
yang dipegang teguh ketika kita berada dalam posisi yang menuntut kita untuk mengambil
keputusan dari dua pilihan yang secara logika dan rasa keduanya benar, berada
situasi dilema etika (benar vs benar) atau berada dalam dua pilihan antara
benar melawan salah (bujukan moral) yang menuntut kita berpikir secara seksama
untuk mengambil keputusan yang benar.
Bua nilai-nilai positif yang dipegang teguh dan dijalankan oleh guru
adalah keputusan yang tepat.
Nilai-nilai positif akan mengarahkan kita mengambil keputusan dengan resiko
yang sekecil-kecilnya. Keputusan yang mampu memunculkan kepentingan dan
keberpihakan pada peserta didik. Nilai-nilai positif mandiri, reflektif,
kolaboratif, inovatif serta berpihak pada murid merupakan wujud nyata
dari kompetensi sosial emosional
kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran social dan keterampilan berinteraksi
social dalam mengambil keputusan.
- Bagaimana
materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’
(bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan
proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan
yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah
efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas
pengambilan keputusan tersebut?
Coaching
adalah ketrampilan yang sangat penting dalam menggali suatu masalah yang
sebenarnya terjadi baik masalah dalam diri kita maupun masalah yang dimiliki
orang lain. Coaching dilaksanakan dengan langkah TIRTA yang dijalankan dengan sistematis dan terarah. Konsep
coaching TIRTA sangat ideal apaila dikombinasikan dengan sembilan langkah
konsep pengambilan dan pengujian keputusan sebagai evaluasi terhadap keputusan
yang kita ambil.
Pendampingan oleh Pengajar Praktik dan
fasilitator telah membantu saya berlatih mengevaluasi keputusan yang telah saya
ambil. Keputusan yang diambil dipastikan berpihak kepada murid, dan sejalan dengan nilai-nilai kebajikan universal dan dapat dipertanggungjawabkan baik
pada masyarakat maupun pada diri sundiri. TIRTA merupakan
model coaching yang dikembangkan Program Pendidikan Guru Penggerak dengan
langkah T : Tujuan, I :
Identifikasi, R : Rencana aksi, dan TA: Tanggung jawab. Dengan menjalankan TIRTA
secara terarah dan sistematis diharapkan guru sebagai pemimpin pembelajaran
dapat mengambil keputusan terhadap masalah yang sedang dialami oleh anak.
4. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek
sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan
khususnya masalah dilema etika?
Kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari sosial
emosional sangat mempengaruhi pengambilan keputusan.
Subyektifitas dan suasana hati dapat mewarnai setiap keputusan yang diambil, namun pendidik
menyadari setiap keputusan wajib berlandaskan pada nilai-nilai kebajikan
serta regulasi yang ada dan melakukan 9 langkah pengambilan keputusan. Sehingga
dengan kedua dasar tersebut kita dapat membedakan dilema etika atau bujukan
moral. Sosial emosional akan menumbuhkan empati dan simpati bagi kita sebagai
pendidik. Dengan simpati dan empati kita dapat merasakan apa yang peserta didik
alami, dan kita dapat mengidentifikasi permasalahan dengan bijaksana, sehingga
dalam pengambilan keputusan kita dapat menggiring murid menciptakan terobosan
yang inifatif dan kreatif sebagai alternatif solusi dalam setiap pengambilan
keputusan. Sebagai pemimpin pembelajaran setiap keputusan harus berpihak pada
murid, berbasis etika dan nilai kebajikan dengan memetakan 4 paradigma, 3
prinsip, dan 9 langkah pengambilan keputusan.
· 4 (empat)
Paradigma pengambilan keputusan yaitu :
a. individu lawan masyarakat
b. rasa keadilan lawan rasa kasihan
c. kebenaran lawan kesetiaan
d. jangka pendek vs jangka panjang.
· 3 (tiga ) prinsip pengambilan keputusan yaitu :
a. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
b. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)\
c. Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking).
·
9 (sembilan) langkah pengambilan keputusan
a.
Mengenali
nilai- nilai yang saling bertentangan
b.
Menentukan
siapa yang terlibat dalam situasi tersebut
c.
Mengumpulkan
fakta
d.
Ppengujian benar atau salah
e.
Ppengujian benar- benar
f.
Mmelakukan prinsip resolusi
g.
Investigasi opsi trilema
h.
Buat keputusan
i.
Lihat lagi keputusan dan refleksikan
5. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah
moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?
Guru yang
mampu melihat permasalahan dari berbagai kaca mata dan guru yang dengan tepat mampu membedakan apakah
permasalahan yang dihadapi termasuk dilema etika ataukah bujukan moral. Seorang guru ketika dihadapkan dengan kasus-kasus yang
fokus terhadap masalah moral dan etika, baik secara sadar atau pun tidak akan
terpengaruh oleh nilai-nilai yang dipegang olehnya. Nilai-nilai yang dipegang
olehnya akan mempengaruhi dirinya dalam mengambil sebuah keputusan. Jika
nilai-nilai yang dipegang tersebut adalah nilai-nilai kebajikan maka keputusan
yang diambil akan tepat, benar dan dapat dipertanggung jawabkan. Hal sebaliknya
terjadi jika nilai-nilai yang dianutnya tidak sesuai dengan kaidah moral, agama
dan norma, maka keputusan yang diambilnya benar secara pribadi dan tidak sesuai
harapan kebanyakan pihak. Kita tahu bahwa nilai-nilai yang dipegang oleh Guru
Penggerak adalah reflektif, mandiri, inovatif, kolaboratif dan berpihak pada
anak didik. Nilai-nilai tersebut akan mendorong guru untuk menentukan keputusan
masalah moral atau etika yang tepat sasaran, benar dan meminimalisir
kemungkinan kesalahan pengambilan keputusan yang dapat merugikan semua pihak
khususnya siswa.
- Bagaimana
pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya
lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman?
Pengambilan keputusan yang tepat akan menciptakan lingkungan
yang kondusif, positif, aman, dan nyaman. Untuk mencapai semua itu diperlukan
perubahan yang mendasar dan upaya yang konsisten. Dengan demikian pengambilan
keputusan yang tepat yaitu dengan membuat visi yang berdampak pada perkembangan
muriddan menjadi
inisiator dalam mewujudkan budaya positif di sekolah yang berpihak pada murid.
Dalam mewujudkan budaya positif ini guru memegang peranan sentral. Guru perlu
mengambil keputusan yang tepat untuk mewujudkan budaya positif baik di
lingkungan kelas maupu disekolah. Keputusan yang diambil untuk membangun budaya
positif di sekolah dengan menyusun kesepakatan kelas. Kesepakatan kelas yang
efektif dapat membantu pembentukan budaya positif kelas. Hal ini dapat membantu
proses pembelajaran lebih mudah dan tidak menekanyang pada akhirnya menciptakan
lingkungan belajar yang positif, kondusif, aman, nyaman dan menyenangkan.
- Apakah tantangan-tantangan di
lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap
kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan
paradigma di lingkungan Anda?
Tantangan yang ada
di lingkungan saya dalam pengambilan keputusan kasus dilema etika diantaranya :
§ Tidak semua warga sekolah berkomitmen tinggi
untuk menjalankan keputusan bersama
§ Keputusan kadang kala tanpa sepenuhnya
melibatkan guru sehingga muncul banyak kendala-kendala dalam proses pelaksanaan
pengambilan keputusan.
§ Pengambilan keputusan ketika suara
minoritas berseberangan dengan suara mayoritas. Misalnya ketika rapat kenaikan
kelas, tidak semua guru sepakat untuk memberikan nilai apa adanya dengan alasan
jika hal tersebut dilakukan banyak yang tidak naik kelas dan menurunkan citra
sekolah
§ Terlalu khawatir dengan keputusan yang
akan diambil berdampak pada menurunnya animo masyarakat untuk menyekolahkan
anaknya.
Hal ini berkaitan
dengan paradigma yang
ada di lingkungan sekolah. Persaingan ketat dalam Penerimaan Peserta Didik Baru
menjadikan sekolah memiliki pandangan bahwa keputusan dan kebijakan yang diambil
harus yang sesuai dengan selera masyarakat.
- Apakah
pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang
memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran
yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?
"Pendidikan
itu harus memerdekakan"
Pengambilan keputusan yang dilakukan guru dalam proses
pembelajaran di kelas yang berpihak dan memerdekakan murid akan menjadi contoh
dan tauladan bagi murid-murid untuk mulai berani mengambil keputusan-keputusan
yang sesuai dengan pilihannya sendiri tanpa paksaan dan campur tangan orang
lain. Diharapkan bahwa murid akan lebih nyaman untuk berkomunikasi dan
menentukan pilihan keputusan bersama dengan guru , dan para guru akan lebih
memperhatikan kepentingan muridnya.
Memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid yang
berbeda – beda dilakukan dengan tahapan pembelajaran berdiferensiasi yaitu :
a.
Melakukan pemetaan kebutuhan belajar berdasarkan tiga aspek,
yaitu: kesiapan belajar, minat belajar, dan profil belajar murid (bisa
dilakukan melalui wawancara, observasi, atau survey menggunakan angket, dll)
b.
Merencanakan pembelajaran berdiferensiasi berdasarkan hasil
pemetaan (memberikan berbagai pilihan baik dari strategi, materi, maupun cara
belajar)
c.
Mengevaluasi dan erefleksi pembelajaran yang sudah
berlangsung.
Dan guru juga menerapkan 3 strategi pembelajaran berdiferensiasi yaitu :
a.
Diferensial konten
b.
Diferensial proses, dam
c.
Diferensial produk
Guru yang mengajar menggunakan filosofi berfokus pada murid,
segala keputusan yang diambil
baik
metode, media dan sistem penilaian
yang dilakukan yang sudah sesuai dengan kebutuhan murid, maka hal ini akan
dapat memerdekakan murid dalam belajar dan pada akhirnya murid dapat berkembang
sesuai dengan potensi dan kodratnya. Namun sebaliknya apabila keputusan
tersebut tidak berpihak kepada murid, dalam hal metode, media, penilaian dan
lain sebagainya maka kemerdekaan belajar murid tidak akan dapat berkembang
sesuai potensi dan kodratnya.
9. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran
dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan
murid-muridnya?
Guru yang didalam dirinya memiliki nilai kebajikan
akan menjunjung tinggi dan menghargai prinsip-prinsip etika yang pasti.
Prinsip-prinsip etika sendiri berdasarkan pada nilai-nilai kebajikan universal
yang disepakati dan disetujui bersama, lepas dari latar belakang sosial,
bahasa, suku bangsa, maupun agama seseorang. Nilai-nilai kebajikan universal
meliputi hal-hal seperti Keadilan, Tanggung Jawab, Kejujuran, Bersyukur, Lurus
Hati, Berprinsip, Integritas, Kasih Sayang, Rajin, Komitmen, Percaya Diri,
Kesabaran, dan masih banyak lagi.
Keputusan-keputusan yang diambil oleh guru sebagai
pemimpin pembelajaran akan merefleksikan nilai-nilai yang dijunjung tinggi, dan
akan menjadi rujukan atau teladan bagi seluruh warga sekolah, terutama bagi murid. Pendidik
adalah teladan bagi murid untuk mewujudkan profil pelajar Pancasila.
Ketika guru sebagai
pemimpin pembelajaran melakukan pengambilan keputusan yang memerdekakan dan
berpihak pada murid, maka dapat dipastikan murid-muridnya akan belajar menjadi
oang-orang yang merdeka, kreatif , inovatif dalam mengambil keputusan yang
menentukan bagi masa depan mereka sendiri. Di masa depan mereka akan tumbuh
menjadi pribadi-pribadi yang matang, penuh pertimbangan dan cermat dalam
mengambil keputusan-keputusan penting bagi kehidupan dan pekerjaannya.
10.
Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda
tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul
sebelumnya?\
Kesimplan yang
didapat dari pembelajaran modul ini yang dikaitkan dengan modul-modul
sebelumnya adalah :
a. Pengambilan keputusan adalah keterampilan
yang harus dimiiki oleh guru dan harus berlandaskan kepada filosofi Ki Hajar
Dewantara yang dikaitkan sebagai pemimpin pembelajaran yang harus perpusat pada
anak dan tidak membawa kepentingan pribadi guru
b. Guru sebagai pendidik
yang peran utamanya adalah menuntun segala kodrat yang dimiliki oleh anak, baik
kodrat alam maupun kodrat zamannya, agar anak meraih kemerdekaannya dalam
belajar. Dalam proses menuntun, guru berperan sebagai pamong, yang
mengedepankan azaz pratap trikolaka Ing
Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa dan Tut Wuri Handayani. Dalam
kepemimpinannya di pembelajaran. Pratap Triloka KHD yang dikedepankan oleh guru
dalam pengambilan keputusan di kelas akan membawa kepada perubahan positif pada
anak.
c. Setiap keputusan diambil guru ada konsekuensi yang mengikutinya, dan
oleh sebab itu setiap keputusan perlu berdasarkan pada rasa tanggung jawab,
nilai-nilai kebajikan universal dan berpihak pada murid.
d. Sebagai upaya pengambilan keputusan
yang tepat, yang berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif,
aman dan nyaman dapat dilakukan dengan bebrapa tahap berikut, yaitu (1) mengidentifikasi
jenis-jenis paradigma dilema etika yang sesui dari suatu kasus, (2) memilih dan
memahami 3 (tiga) prinsip yang dapat dilakukan untuk membuat keputusan dalam
dilema pengambilan keputusan, (3) menerapkan 9 langkah pengambilan dan pengujian
keputusan yang diambil dalam dilema etika, dan (4) bersikap reflektif, kritis,
dan kreatif dalam proses tersebut
- Sejauh
mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di
modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan
keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan
pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?
Berdasarkan apa yang sudah saya pelajari di modul 3.1 saya
mampu membedakan antara dilema etika dan bujukan moral. Dimana dilema etika merupakan
situasi dimana terjadi pertentangan dua kebenaran atau benar lawan benar, sementara bujukan moral
adalah situasi dimana terjadi sebuah pertentangan benar lawan salah.
Hal yang tidak terduga adalah pada saat awal saya
mempelajari dilema etika, saya merasa terjebak dalam menentukan sebuah
kasus antara bujukan moral dan dilema etika, ada kasus dilema etika yang saya kategorikan
bujukan moral, sehingga saya merasa keputusan saya selama ini yang buat sebelum
mempelajari modul ini cenderung kaku atau hanya berbasis peraturan sehingga
saya merasa untuk melenceng dari aturan itu sulit. Keetika mempelajari dilema
etika saya merasa, ada kalanya kita perlu melenceng dari aturan untuk
kemaslahatan yang lebih besar, sehingga paradigma pengambilan keputusan dalam
mengambil keputusan yang berhubungan dengan diema etika sangatlah penting
dilakukan. Begitu pula 9 langkah pengambilan dna pengujian keputusan adalah
langkah yang sangat runut dan terarah yang sangat berguna dalam mengambil
keputusan dan menguji keputusan yang saya ambil.
Empat paradigma pengambilan
keputusan yaitu
·
Individu lawan masyarakat
(individual vs community)
·
Rasa keadilan lawan rasa kasihan
(justice vs mercy)
·
Kebenaran lawan kesetiaan (truth
vs loyalty)
·
Jangka pendek lawan jangka
panjang (short term vs long term)
Pentingnya mengidentifikasi paradigma ini, bukan hanya
mengelompokkan permasalahan, namun membawa penajaman bahwa situasi yang saya
hadapi betul- betul mempertentangkan antara dua nilai-nilai inti kebajikan yang
sama-sama penting.
Saya juga sudah memahami tentang tiga prinsip pengambilan keputusan
yang terdiri atas 3 prinsip yaitu
1. Berpikir
Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
2. Berpikir
Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
3. Berpikir
Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)
Konsep lain yang sangat penting adalah 9 langkah pengambilan
dan pengujian keputusan. Saya merasa langkah ini sangat penting untuk
memantapkan keputusan yang saya ambil, jika saya sudah melakukan 9 uji ini maka
saya bisa memastikan keputusan saya efektif. Menurut saya, 9 langkah ini sangat
detail dan terstruktur dan juga memudahkan dalam mengambil keputusan karena
runut dan terpola dengan baik
9
langkah tersebut adalah
§ Langkah 1: Mengenali bahwa ada nilai-nilai
yang saling bertentangan dalam situasi ini.
§ Langkah 2: Menentukan siapa yang terlibat
dalam situasi ini
§ Langkah 3: Kumpulkan fakta-fakta yang relevan
dengan situasi ini
§ Langkah 4: Pengujian benar atau salah, yang
terdiri atas:
1. Uji Legal
Menyangkut aspek pelanggaran hukum. Bila jawabannya adalah iya, maka pilihan
yang ada bukanlah antara benar lawan benar, namun antara benar lawan salah.
Pilihannya menjadi membuat keputusan yang mematuhi hukum atau tidak, bukannya
keputusan yang berhubungan dengan moral.
2. Uji Regulasi/Standar Profesional
Berhubungan dengan pelanggaran peraturan atau kode etik.
3. Uji Intuisi
Langkah ini mengandalkan tingkatan perasaan dan intuisi dalam merasakan apakah
ada yang salah dengan situasi ini. Uji intuisi ini akan mempertanyakan apakah
tindakan ini sejalan atau berlawanan dengan nilai-nilai yang Anda yakini.
4. Uji Halaman Depan Koran
Apa yang dirasakan bila keputusan ini
dipublikasikan pada halaman depan dari koran dan sesuatu yang dianggap merupakan ranah pribadi, dan tiba-tiba menjadi konsumsi
masyarakat? Bila merasa tidak nyaman membayangkan hal itu akan terjadi,
kemungkinan besar sedang menghadapi bujukan moral atau benar lawan salah.
5. Uji Panutan/Idola
Dalam langkah ini, membayangkan apa yang akan dilakukan oleh seseorang yang
merupakan panutan Anda, misalnya ibu Anda. Tentunya di sini fokusnya bukanlah
pada ibu Anda, namun keputusan apa yang kira-kira akan beliau ambil, karena
beliau adalah orang yang menyayangi Anda dan orang yang sangat berarti bagi
Anda.
§ Langkah 5: Pengujian Paradigma Benar lawan
Benar
Mengidentifikasi paradigm sanagt penting karena, ini bukan
hanya permasalahan namun membawa penajaman pada fokus kenyataan bahwa situasi
ini betul-betul mempertentangkan antara dua nilai-nilai inti kebajikan yang
sama-sama penting.
§ Langkah 6: Melakukan Prinsip Resolusi ,
yang terdiri dari 3 prinsip berpikir yaitu:
a.
Berpikir Berbasis Hasil Akhir
(Ends-Based Thinking)
b.
Berpikir Berbasis Peraturan
(Rule-Based Thinking)
c.
Berpikir Berbasis Rasa Peduli
(Care-Based Thinking)
§ Langkah 7: Investigasi Opsi Trilema
Mencari opsi yang ada di antara 2 opsi. Apakah ada cara
untuk berkompromi dalam situasi ini. Terkadang akan muncul sebuah penyelesaian
yang kreatif dan tidak terpikir sebelumnya yang bisa saja muncul di
tengah-tengah kebingungan menyelesaikan masalah.
§ Langkah 8: Buat Keputusan
§ Langkah 9,
Tinjau lagi
keputusan dan refleksikan
12. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan
pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana
pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?
Saya
pernah menerapkan pengambila keputusan dalam situasi moral etika. Ketika menghadapi
permasalahan tersebut saya berpegang pada aturan atau regulasi yang berlaku dan
juga menjalankan langkah – langkah pengambilan keputusan, meskipun langkah yang
dilalui tidak sistematis atau urut di 9 langkah tersebut. Yang sama sekali
belum pernah saya lakukan adalah uji panutan, Karena belum pernah terpikir apa
yang panutan saya lakukan ketika mengambil keputusan tersebut.
Dalam mengambil keputusan sebagai
pemimpin pembelajaran, saya tidak jarang juga melibatkan rekan sejawat untik
memberikan pertimbangan untuk pengambilan keputusan. Sama halnya ketika saya
ada di posisi sebagai tim pengembang sekolah, saya juga selalu melibatkan tim
untuk mengambil keputusan.'
13. Bagaimana dampak mempelajari konsep ini buat Anda,
perubahan apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan
sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?
Sebelum, mempelajari konsep pengambilan keputusan dari program Calon
Guru Penggerak ini, saya mengambil keputusan dengan berdasar regulasi dan
dikolaborasikan dengan nilai kebajikan yang ada dalam diri saya. Akan tetapi
setelah belajar modul ini, saya lebih paham bagaimana nilai kebajikan dikolaborasikan
dengan paradigm, prinsip dan langkah pengambilan keputusan, dan keputusan yang
diambil tersebut bertujuan untuk memerdekakan anak sesuai kodrat jaman dan
kodral alamnya. Dalam kata lain, pengambilan keputusan dilakukan dengan bijak
dengan bertumpu pada 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah bertujuan mendapat
keputusan yang berpihak pada murid dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.
14. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda
sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?
Beban dan amanah kepemimpinan adalah mengimbangi semua prioritas yang
terpenting. Tugas saya dalam pendidikan adalah melakukan yang terbaik.
Apa yang diinginkan kadang-kadang belum tentu itu yang terbaik. Dan untuk
membuat perubahan, apalagi perubahan yang transformational, pasti ada
kritik. Sebelum mengambil keputusan, tanyakan, apakah yang kita lakukan
berdampak pada peningkatan pembelajaran murid? (Nadiem Makarim, 2020)
Bagi saya
mempelajari modul ini sangat penting, sebab cara pengambilan keputusan dapat
dijadikan panutan dan contoh praktik baik sebagai wujud menggerakkan pendidikan
kearah yang lebih baik. Hasil atau keputusan yang diambil sangat berpengaruh
terhadap keberlangsungan pendidikan di kemudian hari, berpengaruh pada murid. Pengambilan
keputusan guru menentukan nasib bangsa di masa depan.
__***__

